
Pahami Tatacara Ini dalam Berdoa Agar Doamu Cepat Terkabul
Agama | 2025-02-20 23:01:15
Doa mencerminkan hubungan langsung antara manusia dengan Sang Pencipta tanpa perantara, yang menegaskan keesaan Allah (tauhid). Doa bukan sekedar ritual, melainkan ekspresi ketergantungan manusia kepada Allah. Hal ini ditekankan dalam Al-Qur'an, di mana Allah berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina." (QS. Ghafir: 60).
Dari ayat diatas Allah secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Melalui doa, seorang hamba melaksanakan perintah Allah sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya sebagai wujud pengakuan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan Allah. Dalam segala aspek kehidupan, manusia tidak mampu berjalan sendiri tanpa kehendak dan rahmat-Nya. Sehingga doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang membuat hati seorang hamba lebih dekat kepada Allah karena doa yang disertai dengan keikhlasan, menjadi sebab pengampunan dosa dan turunnya rahmat Allah. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
"Doa adalah inti dari ibadah." (HR. Tirmidzi).
Berdoa dalam Islam adalah ibadah yang agung dan dianjurkan untuk dilakukan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW. Agar doa lebih berpeluang dikabulkan, terdapat tata cara yang diajarkan yang mencakup adab-adab dalam berdoa. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Permohonan yang Dituju Kepada Allah
Doa harus ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada makhluk atau benda lain. Seperti dalam firman Allah:
"Maka janganlah kamu berdoa kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu." (QS. Yunus: 106).
2. Memulai dengan Pujian kepada Allah
Sebelum menyampaikan permohonan, doa dianjurkan dimulai dengan memuji Allah. Rasulullah mengajarkan untuk memulai doa dengan membaca kalimat tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar). Selain itu, doa juga sebaiknya dimulai dengan membaca nama-nama Allah yang indah (Asmaul Husna). Allah berfirman:
"Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu." (QS. Al-A’raf: 180).
Contoh pembukaan dalam doa:
"Ya Allah, Engkaulah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang). Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan dan perlindungan."
3. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Setelah memuji Allah, dianjurkan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Seperti yang beliau sabdakan:
"Setiap doa akan terhalang hingga dibacakan shalawat kepada Nabi." (HR. Thabrani).
Contoh bacaan shalawat yang bisa digunakan:
"Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad."
4. Berisi Permohonan Kebaikan
Doa umumnya berupa permohonan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Salah satu doa terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:
"Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).
5. Ikhlas dalam Berdoa
Berdoa harus dilakukan dengan niat yang tulus hanya kepada Allah semata. Niatkan doa sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan jauhi keinginan untuk pamer atau berharap kepada selain-Nya. Allah berfirman:
"Maka berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya)." (QS. Ghafir: 14).
6. Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan
Berdoa sambil menghadap kiblat adalah sunnah yang diajarkan Rasulullah. Beliau sering mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, sebagai simbol kerendahan hati dan permohonan yang sungguh-sungguh. Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat tangan kepada-Nya, lalu Dia kembalikan tangan itu dalam keadaan hampa." (HR. Abu Dawud).
7. Doa dengan Yakin dan Khusyu’
Berdoa harus disertai keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut. Disamping itu, sikap yang khusyu’ dalam memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah sangat penting guna menghindari gangguan atau sikap yang tidak menunjukan ketundukan. Rasulullah bersabda:
"Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan." (HR. Tirmidzi).
8. Memohon dengan Kerendahan Hati
Allah mencintai hamba-Nya yang berdoa dengan rendah hati, sebagaimana firman-Nya:
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut." (QS. Al-A’raf: 55).
9. Menghindari Doa yang Buruk
Doa yang berisi permintaan yang melanggar syariat, seperti memohon keburukan bagi diri sendiri atau orang lain, tidak akan dikabulkan. Rasulullah bersabda:
"Doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutus tali silaturahmi." (HR. Muslim).
10. Berdoa Berulang-Ulang
Rasulullah mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh kesungguhan lebih mudah dikabulkan. Beliau juga sering mengulang doa yang sama hingga tiga kali. Hal ini menunjukkan keseriusan dan kebutuhan yang mendalam.
11. Disertai dengan Usaha
Doa harus disertai dengan usaha nyata. Sebagai contoh, berdoa untuk rezeki harus diiringi dengan ikhtiar dalam mencari nafkah.
12. Tidak Tergesa-Gesa Mengharapkan Hasil
Rasulullah mengingatkan agar seorang Muslim tidak tergesa-gesa dalam meminta hasil doa. Beliau bersabda:
"Doa seseorang akan senantiasa dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.’" (HR. Bukhari dan Muslim).
Berharap kepada Allah harus dibarengi dengan rasa tawakal dan kepercayaan penuh kepada kebijaksanaan-Nya. Jika doa belum terkabul, yakinlah bahwa Allah menundanya untuk kebaikan atau menggantinya dengan hal yang lebih baik.
13. Akhiri dengan Kalimat Penutup dan Shalawat
Doa sebaiknya diakhiri dengan kalimat-kalimat penutup, seperti memohon ampunan dan kembali membaca shalawat. Sebagai contoh doa dibawah:
"Rabbanaa taqabbal minnaa, innaka Antas-Sami’ul-‘Aliim."
Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
14. Berdoa di Waktu Mustajab
Saat Sepertiga Malam Terakhir
Waktu ini disebutkan dalam beberapa hadis sebagai waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Allah turun ke langit dunia pada waktu ini untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Rasulullah bersabda:
"Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni.’" (HR. Bukhari dan Muslim)
Waktu Antara Azan dan Iqamah
Doa yang dipanjatkan di antara azan dan iqamah memiliki keutamaan karena waktu ini adalah momen ibadah yang diberkahi. Rasulullah bersabda:
"Doa tidak akan ditolak di antara azan dan iqamah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Saat Sujud Dalam Salat
Sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya. Karena itu, doa saat sujud sangat dianjurkan. Rasulullah bersabda:
"Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ketika ia sujud. Maka, perbanyaklah doa (ketika sujud)." (HR. Muslim)
Setelah Salat Fardhu
Setelah melaksanakan salat wajib, doa dianggap mustajab, terutama jika diikuti dengan dzikir. Allah berfirman:
"Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa bahagia." (QS. Taha: 130)
Selain itu, Rasulullah bersabda:
"Doa setelah salat wajib tidak akan tertolak." (HR. Tirmidzi)
Hari Jumat (Terutama Saat Asar hingga Maghrib)
Hari Jumat memiliki keutamaan yang luar biasa, dan terdapat waktu tertentu di hari itu ketika doa tidak akan ditolak. Rasulullah bersabda:
"Di hari Jumat terdapat waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri untuk melaksanakan salat, lalu ia memanjatkan doa pada waktu itu, melainkan Allah akan mengabulkan doanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, waktu yang dimaksud dijelaskan oleh para ulama sebagai setelah Asar hingga Maghrib.
Saat Berbuka Puasa
Doa orang yang berpuasa, terutama ketika menjelang berbuka, sangat mustajab. Rasulullah bersabda:
"Tiga doa yang tidak tertolak: doa seorang yang berpuasa ketika berbuka, doa seorang pemimpin yang adil, dan doa seorang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi)
Pada Hari Arafah
Hari Arafah (9 Dzulhijjah) merupakan salah satu waktu terbaik untuk berdoa, khususnya bagi yang sedang menjalankan ibadah haji. Rasulullah bersabda:
"Doa yang paling baik adalah doa pada hari Arafah." (HR. Tirmidzi)
Ketika Hujan Turun
Waktu turunnya hujan adalah saat yang diberkahi, sehingga doa yang dipanjatkan saat itu sangat mustajab. Rasulullah bersabda:
"Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika azan dan doa ketika hujan turun." (HR. Hakim dan Thabrani, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Ketika Terjadi Perang atau Jihad di Jalan Allah
Saat-saat genting seperti ketika pasukan bertempur, doa juga dianggap sangat mustajab. Rasulullah bersabda:
"Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang terzalimi, doa orang yang berpuasa hingga dia berbuka, dan doa seorang yang berperang di jalan Allah." (HR. Ahmad)
Ketika Mendapat Musibah atau dalam Kesulitan
Dalam kondisi sulit atau ketika merasa tertekan, doa yang dipanjatkan lebih tulus dan Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dalam keadaan seperti itu. Allah berfirman:
"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (QS. An-Naml: 62)
Berdoa adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan keberhasilannya bergantung pada tata cara yang benar. Dengan mengikuti adab dan waktu berdoa yang diajarkan Al-Qur'an dan hadis, seorang Muslim dapat merasakan kedekatan dengan Allah dan berharap doa-doanya dikabulkan. Ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar, dan doa adalah bentuk pengabdian dan ketergantungan yang tulus kepada-Nya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook